Ketika sudah tidak ada yang bisa dituliskan.
Ketika pengalaman sudah tidak dapat diceritakan dengan kata-kata.
Maka sebaiknya aku diam.
Tidak nyinyir kesana kemari.
Mengatakan yang tak terkatakan.
Diam adalah solusi.
Ketika kata-kata hanya memperkeruh air yang sudah tenang.
Sehingga kehilangan kejernihannya.
Maka sejenak menarik diri.
Memikirkan langkah terbaik dalam hening.
Hiruk pikuk, silahkan kau nikmati sepuasnya.
Aku pergi dulu.
Istirahat
Diterbitkan Agustus 3, 2008 Perjalanan Puisi 30 KomentarTags: hening, istirahat, jeda, pamit, puisi, sajak
Semua Agama Benar dan Pindah Agama
Diterbitkan Agustus 1, 2008 Perjalanan Jenar 36 KomentarTags: agama, jenar, liberal, pindah agama, pluralisme, universal
“Jenar, kamu benar menganggap semua agama itu benar? “
“Iya, betul bro. Memang kenapa? “
“Lah, jika begitu, kenapa kamu tidak pindah agama saja. Kan semua benar. “
Beragama Ketakutan
Diterbitkan Juli 28, 2008 Perjalanan Renungan 50 KomentarTags: agama, ancaman, Kontemplasi, rasa, Renungan, takut, Tuhan, universal
Agama-agama mengajarkan ketakutan. Takut akan hukuman dari Tuhan jika melanggar perintahNya. Sehingga Tuhanpun menjadi semacam penguasa yang pemarah dan mengerikan jika kita berbuat hal yang salah. Semua bakal dibakar, tanpa sisa. Ada sedikit sisa memang, yakni cerita tentang kesedihan, kepedihan dan siksaan. Tentu saja di neraka jahanam itu tempatnya.
Katanya itu adalah untuk alasan kebaikan bagi manusia. Sebab Tuhanlah yang tahu kita butuhkan. Sedangkan manusia tidak tahu apa-apa. Makanya Tuhan pun membuat semacam skenario untuk menakut-nakuti manusia agar tidak keluar dari jalurnya. Agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan diri sendiri. Sebab manusia memang tidak tahu apa-apa.
Serpih Pemikiran Liberal Emak
Diterbitkan Juli 24, 2008 Perjalanan Renungan 20 KomentarTags: buku, emak, Kontemplasi, liberal, Renungan, resensi
Sebenarnya ketika membeli buku “Emak” ini aku hanya merasa membeli sebuah cerita hidup biasa. Tidak pernah terpikir bahwa didalamnya bakal ada serpih-serpih pemikiran liberal. Yang menyadarkan aku, betapa ternyata pola pikir liberal ini sudah ada sejak jaman dulu. Dalam tulisan kali ini akan saya kutipkan beberapa pendapat tokoh Emak dalam buku tersebut yang menjelaskan sebuah pemikiran liberal dengan cara yang lebih runtut dibanding cara saya bertutur selama ini.
Sholatlah Seperti Engkau Melihatku Sholat
Diterbitkan Juli 21, 2008 Perjalanan Jenar 54 KomentarTags: Islam, jenar, Kontemplasi, sholat, spiritual, sufi, universal
Sholatlah seperti engkau melihatku sholat
Tidak sengaja Jenar membaca kalimat tersebut. Saat itu dia sedang menikmati kacang yang dibelinya dari penjual keliling. Seperti biasa, kacang tersebut dibungkus kertas bekas demi penghematan. Yah, kelihatanya sih tidak higienis sebab entah kertas bekas apa yang beruntung terpilih untuk membungkus kacang yang dibeli Jenar.
Tapi tampaknya Jenar tidak pernah peduli. Toh, selama ini dia tidak pernah mengalami kesulitan dengan kesehatannya. Bahkan banyak pengetahuan baru yang dia dapatkan dari potongan-potongan kertas bekas yang bernasib menjadi pembungkus kacang itu. Tidak hanya pengetahuan baru, tapi juga pengetahuan lama yang mengingatkan sesuatu yang baru.
Kami
Diterbitkan Juli 14, 2008 Perjalanan Spiritual 50 KomentarTags: AQ, berserah diri, Islam, kami, mistisme, rasa, spiritual, sufi, Tuhan, universal
Kata kami sering ditemukan dalam ayat AQ ketika Tuhan menyebutkan dirinya yang sedang berbuat atau berkehendak. Kalo dipikir-pikir kok ya Tuhan menyebut kami, kan berarti ada lebih dari satu Tuhan tuh. Tuhan menyekutukan dirinya sendiri dunk jadinya. Heh?! Tuhan macam apa yang begitu. Melarang orang menyekutukanNya, namun malah melakukan penyekutuan itu sendiri. Walau sih Tuhan itu memang maha-maha, jadi ya bisa seenaknya dewelah. Tapi mosok Tuhan begitu. Saya jadinya pengen protes dunk.
Syahadat Kristen
Diterbitkan Juli 9, 2008 Perjalanan Spiritual 39 KomentarTags: agama, katolik, kristen, sesat, spiritual, syahadat
Credo in unum Deum, Patrem Omnipotentem
factorem caeli et terrae, visibilium omnium et invisibilium.
Et in unum Dominum Iesum Christum, Filium Dei Unigenitum,
Et ex Patre natum ante omnia saecula. Deum de Deo, lumen de lumine,
Deum verum de Deo vero. Genitum, non factum, Consubstantialem Patri
per quem omnia facta sunt.
Qui propter nos homines et propter nostram salutem descendit de caelis.
Et incarnatus est de Spiritu Sancto
ex Maria virgine et homo factus est.
Crucifixus etiam pro nobis sub Pontio Pilato,
passus et sepultus est.
Et resurrexit tertia die secundum Scripturas.
et ascendit in caelum, sedet ad dexteram Patris.
Et iterum venturus est cum gloria, iudicare vivos et mortuos,
cuius regni non erit finis.
Et in Spiritum Sanctum, Dominum et vivificantem,
qui ex Patre (Filioque)* procedit.
Qui cum Patre et Filio simul adoratur et conglorificatur:
qui locutus est per prophetas.
Et unam, sanctam, catholicam et apostolicam Ecclesiam.
Confiteor unum baptisma in remissionem peccatorum.
Et expecto resurrectionem mortuorum,
et vitam venturi saeculi. Amen.
Nabi Kok Cuma Laki-Laki
Diterbitkan Juli 4, 2008 Perjalanan Renungan 65 KomentarTags: agama, brainstorming, cuci otak, emansipasi, gender, laki-laki, nabi, perempuan, Renungan, tanya, Tuhan, universal
Tiba-tiba beberapa pikiran negatif menghampiri tanpa dapat ditahan ketika membaca komen bu Hana yang mengaku-ngaku sebagai nabi.
Begini prosesnya. Saya tersadar bahwa bu Hana ini kan seorang perempuan (kalo belon ganti kelamin sih). Dan selama sejarahnya (yang saya tahu nih) kok belon ada Nabi yang perempuan ya?
Berbaik Sangka
Diterbitkan Juni 23, 2008 Perjalanan Renungan 44 KomentarTags: AKKBB, berbaik sangka, damai, FPI, Islam, Kontemplasi, Renungan, saran, universal
Tiba-tiba suatu hal terlintas dalam pikiran saya ketika sedang membaca-baca kembali soal pro kontra AKKBB dan FPI yang sangat panas itu. Berhubung saya membacanya di forum yang katanya Islami tentu saja lebih banyak yang membela FPI dan menghujat AKKBB. Sebuah hal yang wajar sih. Tapi ya, wajar bukan berarti benar toh?
Nah, kalo saya lihat lebih jauh lagi bahwa pembelaan terhadap FPI ini lebih dilatar belakangi oleh sikap berbaik sangka. Jadi walaupun jelas-jelas FPI telah melakukan kekerasan, maka dibela dengan mengatakan bahwa FPI melakukan tindakan tersebut dengan tujuan yang baik yakni membela kemurnian akidah Islam. Menjaga agar Islam jangan sampai ternoda. Jangan sampai di obrak-abrik orang seenaknya. Tanpa aturan yang jelas. Memang kelihatannya jadi baik sih. Benar-benar telah menjalankan ajaran Islam untuk berbaik sangka.



Komentar pada Perjalananku